Senin, 25 Agustus 2008

BERMAAF-MAAFAN



BERMAAF-MAAFAN

Oleh Nur Akhlis*

Konon kata “apem” berasal dari bahasa Arab, derivasi dari kata “afwun” yang berarti ampunan, kemudian kata afwun ini oleh lidah orang Jawa menjadi “apem” yaitu jenis kue yang dijadikan tradisi orang Jawa sebagai jajan khas menjelang bulan puasa (Sya’ban). Mereka saling membuat kue apem sebagai simbul bahwa menjelang bulan puasa kita harus saling bermaaf-maafan agar dalam menjalankan ibadah puasa bisa lebih khusuk dan enjoy, karena secara horisontal sudah tidak punya beban “dosa” dengan tetangga, teman, saudara dengan terselenggaranya prosesi saling memaafkan menjelang ibadah puasa.

Sayangnya ikon yang dibangun oleh the founding father-nya tradisi tersebut sudah semakin kehilangan makna atau tidak banyak dimengerti oleh generasi sekarang, tapi paling tidak masih banyak orang Jawa melestarikan tradisi membuat apem menjelang puasa kemudian dijadikan bahan tambahan ampas kolak sebagai menu khas puasa.

Mereka biasanya saling membawa kue apem saat megengan, baik ke masjid, musholla atau saling berbagi dengan tetangga. “Prosesi” kecil-kecilan di masjid dan musholla biasanya dipimpin oleh para kiai atau tokoh agama sambil menyampaikan sepatah dua patah kata dengan diiringi tradisi saling bermaaf – maafan serta tanbih (pemberitahuan) bahwa sebentar lagi kita akan menuaikan ibadah puasa. Kemudian bagi mereka yang saling berbagi kue apem dengan sesama tetangga adalah bentuk silaturrohim khusus yang substansinya adalah saling meminta maaf untuk membersihkan hati, mensucikan diri.

Sebetulnya yang harus dibangun adalah proses “pencucian” diri menjelang puasa dari kotoran-kotoran hati, baik yang bernama hasud, kibr, ujub, maupun riya’. Diupayakan agar penyakit-penyakit tersebut dibersihkan “sebersih mungkin” dengan cara niat yang benar, saling bermaaf-maafan dan taubatan nasuha sehingga dalam menjalankan ibadah puasa betul-betul enjoy. Saat puasa tiba mereka tidak akan gampang tergoda oleh orang jualan makanan, tidak mudah loyo ketika bekerja, tapi selalu dalam kondisi batin yang tetap prima dan betul – betul penuh keimanan dan keikhlasan. Insya Allah gambaran puasa seperti inilah yang sesuai dengan janji Rasulullah, ”Barang siapa yang puasa bulan Romadlon dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Untuk membangun dan melestarikan tradisi saling bermaaf-maafan ketika berbuat salah terutama kepada sesama manusia ternyata bukanlah pekerjaan yang gampang. Bisa jadi seseorang akan cepat sadar dan meminta maaf saat khilaf dan berbuat salah, ini adalah contoh yang baik. Tapi tidak sedikit orang yang berbuat salah api tidak mau meminta maaf, mungkin karena gengsi, merasa lebih unggul dari yang lain, atau ada alasan lain.

Menurut keterangan Sufyan Tsauri ra (guru dari Imam Malik): Kullu ma’siatin ‘an syahwatin fainnahu yurja ghufronuha, kullu ma’siatin ‘an kibrin fainnahu la yurja ghuronuha, lianna ma’siata iblisa kana ashluha min alkibri wazallata sayyidina adama kana ashluha min alsyahwati. Artinya setiap maksiat/durhaka yang timbul dari syahwat dapatlah diharapkan ampunannya, tapi setiap maksiat/durhaka yang timbul dari sikap sombong tidaklah dapat diharapkan ampunannya; karena kedurhakaan iblis itu berpangkal dari kesombongan, sedang “kesalahan” Adam as berpangkal pada syahwat.

Syahwat ialah keinginan nafsu jelek untuk melakukan sesuatu, sedang sombong adalah perasaan diri lebih unggul. Iblis berbuat durhaka, yaitu menentang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam as, Iblis menolak karena merasa dirinya lebih unggul dari pada Nabi Adam as. Sedang “kedurhakaan” Nabi Adam as yaitu melanggar larangan Allah makan buah Khuldi, adalah semata-mata karena dorongan keinginan nafsu, itupun karena iblis berulang-ulang kali memprovokasi sayyidatina Hawa as. Iblis tidak dapat diampuni, sedang Nabi Adam dapat atau memperoleh ampunan Allah.

Jelas bahwa ketika seseorang berbuat salah, durhaka atau maksiat akan bisa dicari sumbernya apakah dari dorongan nafsu atau dari kesombongan. Ketika akar penyebab kemaksiatan terdeteksi maka mereka akan memperoleh ampunan atau tidak, meminta maaf atau tidak? Jawabnya adalah tergantung apa penyebabnya.

Sekarang tinggal kita bagaimana, kesalahan model mana yang telah kita perbuat? Apakah kita termasuk orang yang mewarisi tipe kesalahan Iblis sehingga menjadi generasi penerusnya yang tidak mau minta maaf dan tidak ingin dimaafkan oleh Allah terlebih dihari yang fithri ini? Atau kita termasuk anak Adam yang sadar atas kekhilafannya sehingga sesegera sadar dan minta ampunan kepada Allah, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang. Maukah kita saling bermaaf-maafan dengan saudara, kawan dan tetangga kita atau tidak Silakan.

*Penulis adalah Kepala Pusat Kajian Bahasa Inggris STAIN Kediri dan direktur lembaga bahasa Inggris EECC Pare.

Selasa, 03 Juni 2008

Cerita Islami


API PERTAMA

Nabi Adam AS dan ibu Hawa, istrinya, terusir dari surga karena tipuan iblis. Dengan perasaan sangat menyesal mereka meninggalkan tempat yang penuh kebahagiaan itu. Mereka berdua diturunkan ke bumi dan terpaksa harus bersusah payah mencari makan, minum dan tempat tinggal. Apa yang mereka alami jauh berbeda dengan di surga yang serba indah, dan nikmat.

Ketika mendapatkan daging buruan, mereka bingung bagaimana harus memasaknya. Maka berdoalah Nabi Adam AS memohon petunjuk kepada Allah yang Maha Pencipta.

Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk mendatangi malaikat Malik, penjaga neraka. Di pintu neraka malaikat Malik bertanya:

“Apa maksud kedatanganmu kesini wahai Jibril?”

“Aku ingin meminta sedikit api untuk keperluan masak nabi Adam di bumi”

“Seberapa banyak?”

“Sebesar buah kurma cukuplah.”

“Jika kuberikan sebesar kurma, akan hanguslah langit dan bumi karena panasnya.”

“Kalau begitu, separuhnya saja.”

“Separuhnya sekalipun masih sangat panas. Langit tak akan lagi mencurahkan hujan dan bumi tak akan lagi dapat menumbuhkan tanaman.”

Lantas Jibril memohon kepada Allah: “Ya Allah, seberapa banyakkah api yang harus kuminta?”

“Sebesar biji zarrah saja.” Jawab Allah.

Biji zarrah tak lebih besar dari biji bayam. Sebesar itulah api untuk dunia yang diminta malaikat Jibril dari malaikat Malik.

Ketika menyerahkan sumber api tersebut, malaikat Malik berpesan: “Jangan langsung kau berikan kepada nabi Adam AS.”

“Mengapa?” Tanya Jibril.

“Masih terlalu panas, kalau hanya digunakan untuk sekedar memasak.”

“Jadi, harus diapakan dulu?”

“Cucilah lebih dahulu.”

“Dengan apa?”

Mengikuti saran malaikat Malik, maka dicucilah api yang baru diambil dari neraka itu dengan air yang berasal dari tujuh puluh sungai. Bilasannya pun tujuh puluh kali. Begitupun, api itu tidak langsung diserahkan kepada nabi Adam AS. Ketika dibawa ke bumi, mula-mula api tersebut diletakkan diatas sebuah bukit. Apa yang terjadi? Seketika itu bukit musnah. Api itu kembali ke tempat asalnya di neraka. Sisa asapnya membekas diatas batu-batu dan besi, warnanya hitam sampai sekarang.

Jadi api yang kita lihat di dunia sampai sekarang ini hanyalah sisa dari percikan asap api neraka. Ukurannya tak lebih besar dari sebiji zarrah. Wallahu A’lam

Sabtu, 24 Mei 2008

Sakit


SAKIT

Oleh Nur Akhlis*)

Sakit? Siapa yang mau? Emang enak? Itulah kalimat retoris yang muncul dalam diri kita ketika kita ditawari ganjaran yang namanya sakit. Sebagai orang awam pasti kita akan menolak “pahala” khusus dari Allah tersebut, dan Allah adalah Dzat yang Maha Bijaksana maka siapapun akan mendapat “berkah” yang namanya sakit tersebut, dan kita pun tidak mampu menolak kehendak Allah. Kalau kita sudah “menerima” sakit yang sering kita lakukan adalah berkeluh kesah, murung, sedih, tidak sabaran, stress, dll., bahkan kalau bisa ketika kita sakit maunya semua orang harus tahu kalau kita sedang sakit, minimal mereka mendengar.

Sebetulnya dibalik sakit ada banyak hikmah yang bisa kita ambil pelajaran, diantaranya pertama sesungguhnya sakit bukan merupakan penyakit, tapi justru sebagai obat. Bukankah umur kita ini adalah modal hidup kita? Bukankah kita sering menggunakan umur kita ini sia-sia untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bersenang-senang yang terasa sebentar dan begitu cepat? Padahal setiap saat kita melakukan kesenangan tersebut dan berlama-lama. Tapi begitu kita kena “musibah” sebentar saja rasanya lama sekali.

Kita sering ngedumel, ketika kena musibah (sakit) walau cuma sedikit saja, contoh, saat jari kita kesusupan duri hanya beberapa mili saja kita sering mengeluh yang berlebih-lebihan tidak sebanding dengan kenikmatan yang kita peroleh sehari-hari secara gratis dari Allah. Maka sakit yang sedikit dan sebentar tapi berasa lama ini adalah modal bagi kita untuk mengobati “penyakit” kita yang berupa lalai, foya-foya, senang-senang, dll. Sakit ini tidak akan membiarkan hari-hari kita berlalu dengan cepat. Ia akan memperlambat kita untuk berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat, tapi kita akan berlama-lama untuk dzikir kepada Allah saat kita sedang sakit. Maka nikmatilah sakit dengan keikhlasan dan kesabaran.

Kedua, sesungguhnya kehadiran kita di dunia ini tidak dalam rangka bersenang-senang, bahkan kita umat manusia ini adalah makhluk Allah yang paling pede untuk memikul amanat penderitaan. Kita datang ke dunia dalam rangka mendapatkan kebahagiaan hidup abadi lewat jalan perjuangan amal saleh melalui pemanfaatan umur kita. Ketika sakit kita hilang, kita akan kembali jatuh pada kelalaian sebagai akibat dari sehat yang tidak dimanfaatkan. Akhirnya dunia ini tampak begitu manis, menggoda, menjanjikan kesenangan. Ketika itulah kita ditimpa penyakit lupa kepada akhirat, lupa bersyukur, lupa daratan, lupa diri, lupa mati dan lupa yang lain-lainnya. Padahal ketika sakit, dengan cepat kita sadar sambil membuka mata dan berkata, “Kita ini tidaklah kekal di dunia dan tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah. Kita dihadirkan ini adalah untuk sebuah tugas. Janganlah lupa diri dan ingatlah kepada Allah.”

Dengan demikian, ternyata sakit berposisi sebagai pembimbing, penasehat, dan pengingat. Karena itu, tidak perlu mengeluhkannya. Bahkan dilihat dari sisi tersebut, orang yang terkena sakit harus berlindung dalam naungan syukur, karena selalu ingat Allah.

Ketiga, sesungguhnya penyakit itu tidak melenyapkan nikmat karunia ilahi yang terdapat dalam sehat. Justru sebaliknya, sakit membuat kita bisa merasakannya bahkan menjadikannya lebih nikmat. Sebab, sesuatu bisa dikenali lewat kebalikannya. Contohnya, kalau tidak ada gelap manusia tidak akan mengenal cahaya dan tidak akan mengetahui nikmatnya. Kalau tidak ada dingin, manusia tidak akan mengenal panas dan tidak mengetahui kehangatannya. Kalau tidak ada lapar, manusia tidak akan bisa mengetahui nikmatnya makan beserta rasanya. Kalau tidak ada sakit manusia tidak akan merasakan kesembuhan. Serta kalau tidak ada penyakit manusia tidak akan mengetahui nikmatnya sehat.

Ketika Allah hendak mengingatkan manusia terhadap berbagai karunia-Nya dan mencicipkan berbagai nikmat-Nya sehingga mau manusia bersyukur, Dia melengkapinya dengan berbagai perangkat yang sangat banyak agar manusia bisa merasakan ribuan nikmat-Nya. Karena itu sudah barang tentu Dia juga menurunkan penyakit sebagaimana Dia memberikan sehat dan kesembuhan.

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, “Seandainya tidak ada penyakit yang menimpa kepala kita, tangan kita, atau perut kita, apakah kita mampu merasakan nikmat sehat yang ada pada kepala, tangan, atau perut kita? Apakah kita mampu merasakan sekaligus mensyukuri karunia ilahi yang diperlihatkan oleh nikmat tersebut? Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering lupa bersyukur, sering alpa. Dengan kealpaan tadi, tanpa disadari kita sering mempergunakan kesehatan tersebut dalam kehinaan.”

Jadi tidak perlu sedih dan khawatir ketika kita sakit karena Allah sudah menyediakan obatnya, sebagaimana janji Allah dalam Alqur’an surat as- Syu’araa ayat 79 – 80 yang artinya: “Dialah yang memberi makan dan minum. Jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku” Wallahu A’lam.

*)Tulisan ini telah terbit di Radar Kediri (Jawa Pos Group) 2 Mei 2008

Selasa, 06 Mei 2008

Munajat Syekh Asy-Syibliy

Di dalam kitab Nashoihul Ibad karangan Imam Nawawi Banten, yang merupakan Syarah kitab Al-Munabbihat Alal Isti’dad Liyaumil Ma’ad karangan Syekh Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al – Asqolaniy, Ulama’ besar ahli hadits yang mensyarahi Shahih Bukhori menjadi Fathul Bari, dalam Bab TSUNAII maqolah yang ke – 28 diterangkan;

Dari Abu Bakar Asy-Sybliy Rahimahullah berkata dalam munajatnya:

“Wahai Tuhanku, sungguh aku senang mengahturkan kepada-Mu seluruh kebajikanku berikut kemelaratanku dan kelemahanku, maka bagaimana lagi Engkau oh Tuhanku, tidak suka menganugerahkan kepadaku seluruh kejelekanku berikut ke-Maha-kaya-an Mu untuk tidak menyiksaku”.

Kemelaratan disini diartikan dengan keperluan untuk memperoleh kebajikan, dan kelemahan dimaksudkan dengan kelemahan untuk memperbanyak ibadah. Sedang permohonan agar tidak disiksa, karena sesungguhnya kejelekan hamba itu tidak merugikan Allah sebagaimana kebaikan juga tidak menguntungkan-Nya.

Abu Bakar Asy-Syibliy ialah Abu Bakar Dalaf bin Jahdar, lahir dan hidup di Baghdad. Termasuk salah seorang Arif yang agung, menjadi sahabat Imam Al-Junaid dan Ulama lain seperiode dengannya. Imam Asy-Syibliy mengikuti madzhab Imam Malikiy, hidup selama 87 tahun dan wafat tahun 334 H. dimakamkan di Baghdad Irak.

Jumat, 02 Mei 2008

Tawadu'

TAWADU’

Oleh: Nur Akhlis*)

Dalam salah satu karya besarnya yaitu kitab “Al-Hikam”, Syekh Ahmad bin Muhammad Ataillah menyatakan: ” siapa yang merasa dirinya tawadu’, benar-benar dia telah takabur. Sebab tiadalah ia merasa tawadu’ kalau bukan karena sifat tinggi darinya. Maka kapan saja engkau merasa dirimu tinggi, maka engkau benar-benar takabur”.

Tawadu’ memang suatu sifat terpuji bagi orang-orang saleh. Merendahkan diri (tawadu’) adalah hasil dari ibadah. Merendahkan diri kepada Allah SWT. Merasa kecil dan rendah diri dihadapan Allah Rabbul Alamin. Kepada sesama hamba Allah pun manusia harus tawadu’, tidak angkuh dan ujub karena menjadi hamba Allah yang taat menjalankan ibadah, dan patuh atas semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Merasa diri tawadu’ termasuk sifat yang angkuh (kibr). Apalagi kalau sifat tawadu’ dipamerkan kepada orang lain, maka jadilah perbuatan ini menjadi riya.

Sifat tawadu’ perlu dimiliki oleh setiap muslim yang saleh, akan tetapi tempat tawadu’ itu di dalam hati. Kalau tawadu’ itu nampak di luar diri seseorang, itulah akhlakul karimah. Karena tawadu’ adalah termasuk akhlak terpuji bagi manusia beriman.

Dalam pergaulan dengan sesama manusia, maka orang pun hendaknya memiliki perasaan tawadu’. Sifat tawadu’ akan menghindari manusia merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih soleh, lebih kaya, lebih berderajat, lebih berpangkat, lebih cantik, lebih kuat, dan kelebihan lainnya. Merasa lebih akan membuat manusia angkuh. Sedangkan keangkuhan itu menurut hadits Rasulullah SWA adalah Menolak kebenaran dan merendahkan manusia.(HR Muslim)

Selanjutnya Syekh Ataillah mengatakan: “Bukanlah yang dinamakan tawadu’ itu, apabila orang yang tawadu’ merasakan ia hars berada di atas apa yang ia lakukan. Akan tetapi yang dinamakan tawadu’ adalah orang yang ketika tawadu’ merasakan bahwa dia berada di bawah apa yang ia lakukan.”

Menurut Syekh Asy Syibli, orang yang merasa dirinya berharga, atau minta dihargai, maka ia bukan orang yang tawadu’. Selama kita masih merasa ada orang yang melibihi dirinya, maka sifat ini termasuk sifat sombong. Sedangkan orang yang tawadu’, umumnya sabar, tidak merasa besar dan super.

Hamba Allah SWT yang tawadu’ tidak merasa memiliki kelebihan apapun, tidak merasa memiliki kemuliaan. Tawadu’ baginya adalah sifat dan watak yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Syekh Ataillah mengingatkan: “Hakikat tawadu’ adalah bertawadu’nya seseorang karena melihat keagungan Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Sebenarnya tawadu’ itu hanyalah sifat terpuji yang tersimpan dalam hazanah kalbu seorang hamba Allah SWT. Ia tidak menunjukkan sifat-sifatnya itu. Ia hanya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Ia sendiri tidak merasa memiliki sifat tersebut, karena yang ia pakai dan tiru adalah sifat Rasulullah SAW.

Syekh Ataillah menegaskan: “Tidak ada yang dapat mengeluarkan engkau dari sifat angkuh, kecuali engkau memperhatikan sifat-sifat Allah SWT.”

Kekuasaan Allah SWT adalah sifat yang ada pada-Nya. Dia bersifat Maha Kuasa. Selama manusia tidak memperhatikan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada Allah SWT, selama itu pula ia merasa lebih dari manusia lainnya, dan dengan sifat itu ia telah takabur.

Sifat tawadu’ patut dimiliki oleh setiap muslim, karena sifat ini adalah sifat yang diteladani dari sifat utama nabi Muhammad SAW. Sifat ini adalah bagian dari akhlakul karimah.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewahyukan kepadaku, agar bertawadu’lah kalian, sehingga tak seorangpun menyombongkan dirinya kepada yang lain, atau seorang tiada menganiaya kepada lainnya. (HR Muslim).

*) Tulisan ini telah terbit di Radar Kediri (Jawa Pos Group) Pada tanggal 25 Januaroi 2008.

Selasa, 29 April 2008

Cerita


TAUBAT SI PEMBOROS

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai alim-ulama yang tajam pikirannya dan luas wawasan keagamaannya. Pada suatu hari, ia didatangi tetangganya yang dikenal sebagai orang yang boros dan angkuh. Orang yang satu ini sering menghambur-hamburkan harta bendanya hanya semata-mata untuk urusan dunia dan nuruti hawa nafsunya, seperti pesta, dugem, shopping, beli kendaraan dan lain-lain. Ia sangat menikmati sifat borosnya itu, apalagi jika mendapat pujian sebagai orang yang berharta melimpah dan kaya.

Sayangnya, zakat, infaq dan sedekah, sangat jauh dari otak dan hatinya. Ia juga “boros” terhadap dirinya, dalam arti tidak memanfaatkan waktu hidupnya untuk memikirkan agama dan akhirat, tetapi semata-mata untuk kenikmatan dunia seperti judi, mabuk-mabukan, dan perempuan. Usia mudanya sama sekali tidak dimanfaatkan untuk belajar mengaji dan mendalami ilmu agama.

Tahun terus berjalan dan makin lama ia semakin tua, sepertinya ia mulai insyaf, tetapi ia tidak tahu darimana dan bagaimana caranya memulai kehidupan beragama. Ia pun mulai memikirkan betapa tidak berartinya sikap boros selama ini. Namun bagaimana cara menghentikannya? Untuk keperluan itulah ia mendatangi Ibrahim bin Adham yang juga dikenal sebagai Abu Ishak.

Orang itu berkata, “Wahai Abu Ishak, aku ini pemboros, baik terhadap harta, waktu, maupun diriku sendiri. Tolong nasehati aku dengan ajaran Islam agar hatiku tentram, juga agar aku dapat menghilangkan sifat borosku.”

Ibrahim bin Adham menjawab, ”Seandainya kamu bisa menerima lima perkara yang aku ajukan ini dan kamu sanggup mengamalkannya niscaya kamu tidak akan bermaksiat kepada Allah dan kenikmatan hidup ini tak akan pernah membinasakanmu.”

Orang itu berkata, “Apa sajakah lima perkara itu wahai Abu Ishak?”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Pertama, apabila engkau ingin melakukan maksiat di dunia ini, janganlah engkau memakan rizki yang diturunkan oleh Allah ke dunia ini.”

Orang itu bertanya, “Dari mana lagi aku mendapatkan rizki kalau bukan dari dunia ini, sedangkan setiap yang ada di bumi ini rizkinya ditanggung oleh Allah?”

Ibrahim menjawab, “Makanya! Engkau telah makan rizki yang datangnya dari Allah, pantaskah kamu berbuat maksiat terhadap Sang Pemberi Rizki? Emangnya kamu siapa?”

Orang itu merenung sejenak kemudian menjawab, “Baiklah aku terima nasehatmu ini. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sekarang jelaskan kepadaku lagi apa perkara yang kedua?”

Ibrahim berkata, “Kedua, Apabila kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah engkau lakukan di bumi milik Allah ini! Terserah dimana saja asal jangan di bumi milik Allah”

Orang itu menjawab, “Ngaco kamu! Mana ada planet di alam semesta ini yang bukan milik Allah, semua yang ada di alam semesta ini kan milik Allah. Saya harus tinggal dimana dong?”

Ibrahim berkata, “Kamu ini kok aneh. Kau makan rizki dari-Nya dan tinggal di bumi milik-Nya dengan aman dan baik. Kenapa kamu harus bermaksiat kepada-Nya?”

Kembali orang itu merenung, kemudian berkata, “Baiklah untuk saran yang inipun aku terima. Aku akan berusaha untuk tidak melakukan maksiat lagi. Lantas sekarang apa syarat yang ketiga?”

Ibrahim berkata, “Ketiga, Apabila kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, sedangkan engkau telah mendapat rizki di bumi milik-Nya ini, maka carilah tempat yang paling tersembunyi agar tidak dapat diketahui oleh siapapun termasuk oleh Allah.”

Orang itu berkata, “Wahai Ibrahim, bagaimana tidak akan diketahui oleh-Nya, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala rahasia dimanapun kita berada.”

Ibrahim menjawab, “Nah ini, engkau sudah makan rizki dari-Nya dan tinggal di negeri-Nya. Apakah engkau akan bermaksiat kepada-Nya, padahal engkau juga sadar bahwa Dia melihatmu dimana saja kamu berada.”

Orang itu menjawab, “Tentu saja tidak, Baiklah sekarang apa syarat yang keempat?”

Ibarahim menjawab, “Keempat, Apabila malaikat maut datang mau mencabut nyawamu, maka cuekin aja malaikat tersebut dan bilang padanya ‘Jangan cabut nyawaku sekarang sampai aku bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat’. Dapatkah kau katakan itu kepada malaikat maut?”

Orang itu berkata,”Bagaimana kalau malaikat maut itu menolak permohonanku?”

Ibrahim berkata, “Masak sih, kamu kan orang kaya, bangsawan, ningrat, mana berani malaikat maut sama kamu? Silakan tunjukkan statusmu pada malaikat maut?”

Orang itu berkata, “Kamu jangan mengolok-olok aku?!”

Berkata Ibrahim, “Engkau tidak akan dapat mencegah malaikat maut mencabut nyawamu, sedangkan kamu tahu, apabila ajal tiba maka tidak ada satu kekuatan yang dapat menangguhkannya, walaupun hanya sesaat. Bagaimana kamu akan menghadap Tuhanmu dengan tenang?!”

Orang itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terdiam. “Baiklah,” ujarnya. “Sekarang apa syarat yang kelima?”

Ibrahim berkata, “Kelima, Kelak di akhirat, ketika malaikat Zabaniyah membawamu ke neraka, jangan kau turuti ajakannya. Bila perlu lawan dia!”

Orang itu berkata, “Bagaimana kalau malaikat itu tidak menghiraukan siapa diriku dan juga tidak mengabulkan permohonanku?”

Ibrahim berkata, “Kalau begitu bagaimana kamu akan selamat dari cengkeraman api neraka?!”

Orang itu langsung berseru, “Cukup,…cukup…. Ya Ibrahim..! Aku akan segera minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Tak lama kemudian, orang ini dikenal sebagai orang yang rajin beristighfar. Ia selalu memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosanya di setiap selesai shalatnya, sampai maut menjemputnya.

Senin, 28 April 2008

Sabda Rasul

Sabda Rasulullah SAW kepada Muadz: “Wahai Muadz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan;

  1. Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu sesama muslim.
  2. Bacalah Al-Quran.
  3. Tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.
  4. Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.
  5. Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri diatas mereka.
  6. Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.
  7. Jangan engkau menyombongkan diri atas kedudukanmu supaya orang takut pada perangaimu yang tidak baik.
  8. Jangan engkau membisikkan sesuatu, sedang di dekatmu ada orang lain.
  9. Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.
  10. Jangan engkau sakiti hati orang lain dengan ucapan-ucapanmu.